Indonesia

Uji Nyali di Gunung Parang Via Ferrata

Halo semuanya!

Akhir pekan nanti masih belum punya acara keluar rumah? Bagaimana kalau kalian nyobain olahraga ekstrim panjat tebing di Gunung Parang? Cuma butuh waktu sehari saja kok tapi akan selalu terkenang selamanya.

Demi apa ini gw tiba-tiba memutuskan untuk panjat tebing di Gunung Parang?! Pengalaman naik gunung aja cepat lelah, bagaimana panjat tebing? Tapi terkadang memang suatu keputusan yang spontan bisa menjadi pembuktian bahwa selalu ada kemampuan baru yang muncul dalam diri sendiri.

Sabtu kemarin gw dan sekumpulan teman-teman telah mengalami uji nyali mendaki Gunung Parang Via Ferrata. Kata Via Ferrata diambil dari bahasa itali via = melalui, dan ferrata = besi, yang berarti naik gunung dengan menggunakan pijakan kaki dari besi. Lokasi Gunung Parang berada di Jatiluhur, Purwakarta, hanya berjarak kurang lebih 4 jam dari Jakarta.

Sebagai pemula, kami mengikuti Open Trip Sky Cave, dengan tujuan wisata mendaki hingga ketinggian 125m dengan total lintasan 150m. Jika kalian tertarik, tersedia pula Sky Lodge, penginapan tertinggi di dunia yang berada di ketinggian 400m, dengan harga inap Rp4,000,000 per malam. Sedangkan puncaknya Gunung Parang sendiri berada di ketinggian 963m.

Ayo, bisa kelihatan ga Sky Lodge Gunung Parang-nya?

Kami berangkat dengan rombongan satu elf berisi 17 orang, 10 orang teman-teman gw satu komunitas, 5 orang tambahan yang ikut mengisi Open Trip Sky Cave, dan didampingi oleh Kang Fadlan, sang pemandu, dan supir. Berangkat dari Jakarta pukul 5.30 pagi, kami pun tiba di basecamp 4 jam kemudian. Sambil menunggu giliran untuk dipasangkan alat pengaman (seperti helm, hardness (alat penopang tubuh) dan carabiner), jangan lupa untuk memakai tabir surya dan setor ke kamar mandi ya – kalau kebelet di atas ga tanggung jawab loh.

Pemasangan alat pengaman

Setelah itu jangan lupa juga untuk pemanasan tubuh dulu. Dari basecamp menuju dasar gunung, kami berjalan melewati hutan. Hitung-hitung pemanasan juga karena baru jalan sedikit aja udah ngos-ngosan dan keringatan (ketauan banget yang jarang olahraga hahah).

Pemanasan dulu

Setibanya di area dasar penanjakan, diperkenalkanlah kami kepada Kang Ajo, sang pemandu ke-2 alias Spiderman Parang, yang kemudian menjelaskan tata cara mendaki Via Ferrata. Melihat pijakan kaki dari besi dengan dekat aja udah bikin hati ciut. Ternyata ketika sudah mulai dinaiki satu per satu, ga seseram yang dibayangkan kok.

“Kedalaman besi 15cm dan dilem dengan lem khusus impor dari Australi” – Kang Ajo

Tapi ya bagi gw yang jarang melalukan aktifitas panjat tebing atau semacamnya ini terasa berat. Berat menanggung beban sendiri heheh. Sambil mendengarkan instruksi para Spiderman Parang, Kang Ajo dan Kang Fadlan, kami semua perlahan menaiki gunung dengan tenang. Lama-lama ga kerasa juga udah sampai di ketinggian 125m dan tiba di Sky Cave.

Sesampainya di Sky Cave kok jadi nyaman ya duduk-duduk di atas, sambil melihat pemandangan waduk Jatiluhur dan Gunung Lembu. Disediakan pula es teh manis oleh para Spiderman kita. Mantap deh. Goanya bukan macam yang bisa masuk kedalam sambil bikin api unggun ya, melainkan hanya cukup untuk 5-6 orang dalam posisi duduk berjejer.

Hai guys, jarang-jarang kan nongkrong di goa setinggi 125m?
Foto oleh: Fitra
Pemandangan waduk Jatiluhur
Foto oleh: Fitra

Setelah puas ngadem di Sky Cave, nah saatnya turun. Turun dengan menginjak pijakan besi itu agak susah ya, karena harus melihat ke bawah dan salah satu kakinya harus menahan keseluruhan bobot tubuh. Terkadang bisa membuat kaki tiba-tiba keram.

Awas ngilu
Foto oleh: Rendi

Namun ada cara lebih cepat dan lebih gampang untuk turun, yaitu dengan teknik rappelling (menjatuhkan diri dengan tali) – cuma ya serem aja sih. Buat gw yang mentalnya ga sekuat baja turun dengan teknik rappelling itu menegangkan.

Kang Ajo bertugas menjaga tali yang dikaitkan ke katrol, sementara kami turun satu persatu. Melihat orang yang turun duluan itu enak banget ya, mulus perjalanannya. Pas giliran gw tiba, buset deh, rasanya jauh dari enak banget. Tentunya rasa takut menghantui tapi hilang setelah teman-teman tak henti bergantian menyemangati, dan terdengar suara Kang Ajo berkata
“kaki luruskan ke tebing, punggung rebahkan kebelakang”.

Waaaah OMG!!!

Sensasi “jatoh” dari ketinggian 120m itu bikin ngilu. Di tengah jalan sempat lepas kendali dan panik, apalagi saat melihat keatas sudah tidak terlihat lagi Kang Ajo dan teman-teman. Mau melihat ke bawah masih jauh, melihat kiri-kanan ga ada orang, ya ampun panik sepanik-paniknya deh gw disini.

Tapi akhirnya gw menyadari bahwa jalan keluarnya hanya turun ke bawah. Mau ga mau harus menyemangati diri sendiri untuk tetap tenang dan turun dengan selamat. Sambil membayangkan kata-kata “kaki luruskan, punggung rebahkan” gw pun berjalan mundur secara perlahan sampai menyentuh tanah.

Sampai di bawah ga nyangka gw bisa melewati rasa takut itu

Ternyata ga hanya gw aja yang merasakan ketakutan itu melainkan kebanyakan dari teman2 juga merasakan hal yang sama. Bagi beberapa orang di kelompok trip kami, ini merupakan pengalaman uji nyali yang paling berkesan. Ada yang punya phobia ketinggian, ada yang grogian, ada yang belum mulai udah berkeringat dingin. Tapi salut sekali mereka semua berhasil melalui penanjakan ke atas gunung dan turun dengan teknik rappelling yang sangat bikin deg-degan.

Wahgelaseh perasaan syukur dan haru bercampur aduk telah berhasil melewati semua ini. Seru abis! Pengalaman yang berkesan sekali, walaupun aktifitas hanya terselesaikan dalam waktu 2-3 jam saja. Turun kembali ke basecamp sudah disediakan makan siang. Setelah membersihkan diri, mengisi perut, dan tiduran sebentar, akhirnya kami semua kembali ke Jakarta.

Jadi, ada yang tertarik mendaki Gunung Parang Via Ferrata? Atau ada yang udah pernah sampai ke puncaknya? Boleh donk berbagi ceritanya di kolom komentar di bawah ini.

Sampai jumpa di cerita selanjutnya ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *