South Korea

Gyeongbokgung & Yeouido Area (Part 6 – End)

안녕하세요 여러분
Annyeonghaseyo yeorobun!

Akhirnya gw bisa menyelesaikan tulisan bagian terakhir perjalanan gw waktu di Seoul bulan Oktober lalu. Bagian ini gw akan menulis tentang pengalaman gw berjalan-jalan di daerah Gyeongbokgung dan Yeouido.

Untuk mengingat kembali, bisa dibaca tempat-tempat yang telah dikunjungi sebelumnya:

  1. Deoksugung Palace
  2. Namdaemun Market
  3. Namsan Tower & Myeongdong Area
  4. Haneul Park
  5. Itaewon & Dongdaemun Area

Hari ini adalah hari terakhir gw di Seoul sebelum besok pergi kembali ke tanah air. Jadi gw pengennya sih menikmati hari terakhir di Seoul dengan mengenal budaya tradisionalnya khas Korea Selatan lebih dalam, salah satunya adalah dengan menggunakan hanbok. Apa itu hanbok? Hanbok adalah baju tradisional khas Korea Selatan yang sering kalian lihat di drama korea kolosal hihihi. Tau ga, kalau kalian pakai hanbok dan memasuki beberapa tempat wisata di Seoul, biaya masuknya gratis :D.

Sumber: Di sini

Nyewa hanboknya dimana?

Sebelumnya gw pernah cek secara daring tempat penyewaan hanbok yang strategis, alias dekat dengan Gyeongbokgung Palace dan Bukchon Hanok Village, biar ga jauh lagi kalau mengembalikan hanboknya. Ketemulah tempat namanya One Day Hanbok yang berada di dekat Anguk Station.

Pagi itu, gw berangkat dari hostel naik kereta dari Honggik University Station, transit di Euljiro-3 Station dan menuju Anguk Station. Dari Anguk Station Exit 2 hanya berjarak 300m ke One Day Hanbok dengan jalan kaki saja.

Keluar dari Exit 2 Angguk Station

Baru berjalan sekitar 100m, tiba-tiba disamperin sama wanita Korea berseragam warna merah dan bertopi merah langsung berujar “Assalamualaikum”, sontak kaget lah tapi langsung ku jawab kembali, mungkin dia orang muslim juga. “From Malaysia? Indonesia?” tanyanya kembali, pas dijawab kalau gw orang Indonesia, langsung dia berbicara bahasa Indonesia. Lah canggih ini! Ternyata dia itu semacam tourist information, yang membantu para turis untuk memberi arahan jalan. Tapi ini canggih loh karena mereka pasti poliglot (orang yang menguasai lebih dari 3 bahasa), jadi bahasanya bisa disesuaikan dengan turis yang mereka temui.

Jadi wanita ini cuma menawarkan petunjuk arah siapa tau gw hilang arah. Mungkin muka gw kelihatan kaya orang linglung ya makanya disamperin, atau karena ketara banget pakai hijab dengan wajah asia tenggara trus jalan sendirian lagi, dikirain turis hilang hehe. Sebenarnya tujuan gw itu udah di depan mata sih, tapi gw ajak ngobrol aja wanita Korea tersebut dalam bahasa Indonesia. Lancar juga yaa bicaranya walaupun agak cadel, tapi hebat nih Korea Selatan punya informasi turis berjalan, dan tidak dipungut biaya apapun.

One Day Hanbok sudah di depan mata ketika ditanya oleh informasi turis berjalan

Sampai di One Day Hanbok pukul 10 pagi, gw naik ke atas langsung tanya resepsionis untuk rental hanbok. “Do you have a reservation online?” ujar sang resepsionis. Lah, harus reservasi dulu yaa? Ternyata yang diutamakan terlebih dahulu itu yang sudah reservasi via websitenya, dan bagi yang belum, akan antri kira-kira 1-2 jam. Wow, waktu gw habis donk buat antri! Akhirnya gw putuskan untuk tidak meminjam di sana dan berjalan saja menuju Gyeongbokgung Palace tanpa mendapatkan hanbok.

2 orang berbaju merah di sebelah kiri itu informasi turis berjalan 🙂

Berjalan menuju Gyeongbokgung Palace memakan waktu sekitar 20 menit, kebetulan jalanan sepi, serasa jalanan milik sendiri. Eh tapi kebayang kalau jalan sendirian segini jauh udah pakai hanbok, tar malah dikirain orang hilang juga deh heheh. Enak banget ya jalan kaki di sini, ga banyak “gangguan” di trotoranya. Gw berjalan mencari jalan kecil yang merupakan jalan pintas menuju jalan utama Yulgok-ro menuju Gyeongbokgung Palace.

Jalan pintas menuju Gyeongbokgung Palace
Jalan utama. Sekitar 200m ke kanan sudah sampai Gyeongbokgung Palace

Sudah dekat nih ke gerbang Gyeongbokgung Palace, karena sudah terlihat tebok-tembok istana. Sebelum menyebrang, gw melihat ada toko rental hanbok yang menawarkan dengan harga yang lebih murah daripada tempat sebelumnya.

Nama tempatnya Seoul Hanbok Cafe

Harga sewa sejam 10,000 KRW (Rp 120,000), 2 jam 15,000 (Rp 181,000) KRW dan 18,000 KRW (Rp 218,000). Gw langsung masuk saja dan memesan untuk 2 jam. Setelah melakukan pembayaran dan keluar toko, ntah kenapa kok malah pengen memperpanjang rental hanboknya menjadi 4 jam. Kenapa? Karena kalau pinjam hanboknya selama 2 jam, pengembaliannya harus tepat 2 jam, kalau lebih bisa kena denda per 15menit 5,000 KRW (Rp 60,000). Gw rasa karena Gyeongbokgung Palace luas banget, ga akan cukup nih buat 2 jam, sayang kan kalau sampai kena denda. Akhirnya gw balik lagi ke toko untuk menambah waktu. Rezeki anak solehah, ternyata sang resepsionis menambahkan waktu pinjaman hanbok gw tanpa tambahan biaya. Waah jadi gw cuma bayar 15,000 KRW untuk 4 jam! hehe kamsahamnida Ahjumma, semoga rezeki lancar!

Gyeongbokgung Palace

Ini tujuan wajib dikunjungi saat kalian ke Seoul. Biaya masuknya 3,000 KRW (Rp 32,000) tapi kalau udah pakai hanbok masuknya gratis. Luasnya sekitar 40 hektar. Gede banget! Gw kalau ga salah menghabiskan 3 jam di sini. Banyak spot foto yang kece, sampe kepikiran apa gw pre-wedding duluan di sini ya hahahaha. Kebetulan gw bertemu kembali dengan teman-teman kenalan dari Indonesia waktu ketemu di Namsan Tower jadi waktu berfoto-fotonya maksimal banget.

Gyeongbokgung Palace merupakan salah satu dari lima istana yang dibangun pada masa dinasti Joseon, dengan kombinasi arsitektur Cina kuno dan tradisi dinasti Joseon. Di dalamnya terbangun lebih dari 330 bangunan yang dulunya merupakan sebuah kota seluas 40 hektar. Gyeongbokgung Palace sendiri dibangun pada tahun 1395, dengan sejarahnya yang panjang, runtuh serta dibangunnya kembali bangunan ini pun menjadi jatungnya kota Seoul. Buat kalian yang kepo sama sejarahnya Gyeongbokgung Palace, bisa dibaca di sini ya.

Uunch lucu banget kan kalau foto keluarga disini 🙂

Setelah selesai muterin Gyeongbokgung Palace, kami berencana makan siang dekat Bukchon Hanok Village, katanya ada tempat makan yang halal. Keluar dari area lapangan Gyeongbokgung, tiba-tiba ada suara pengumuman bahwa akan ada pergantian penjaga di depan gerbang utamanya. Pergantian penjaga ini ada semacam pertunjukan kecil yang hanya dilakukan pada pukul 11.00 dan 13.00. Para pengunjung pada berkumpul menuju gerbang utama untuk melihat pertunjukan tersebut.

Intinya sih ini prosesi penjaga berbaju warna merah digantikan sama penjaga berbaju warna biru

Informasi Umum Gyeongbokgung Palace:

Jam buka: 09-00~17:00 / Hari Selasa tutup
Tiket masuk:
Dewasa: 3,000 KRW
Anak-anak : 1,500 KRW
Cara menuju tempatnya:
[Naik Subway]
Gyeongbokgung Station (Seoul Subway Line 3) and Exit 5.
Anguk Station (Seoul Subway Line 3) and Exit 1. 
[Bus]
Naik Bus No. 1020, 7025,109, 171, 172, 601 atu 606 dan turun di halte bus Gyeongbokgung Palace.
Bus No. 11 dan turun di halte bus National Folk Musuem. 
Alamat: 
161, Sajik-ro, Jongno-gu, Seoul
+82-2-3700-3900 / www.royalpalace.go.kr

Setelah pertunjukan tersebut, kami pun berpaling untuk mengembalikan hanbok ke tempat rental masing-masing dan bertemu di titik pertemuan. Kalau ke Bukchon Hanok Village dari Gyeongbokgung Palace bisa berjalan sekitar 15-20 menit, tapi karena kita sudah 3 jam keliling istana luas itu, jadi memutuskan untuk naik bus saja. Oh ya, ada bus yang lewat menuju situ loh, kita juga baru tau setelah bertanya ke oppa yang lagi berdiri di halte bus yang dekat di titik pertemuan kami. Busnya warna hijau dan ukurannya lebih kecil daripada bus pada umumnya. Nomor busnya no. 11 ya, nanti tinggal minta turun di Halte Samcheong Police Station. Tenang, tinggal dengarkan saja pengumuman yang bunyi di setiap halte yang akan berhenti.

Penampakan bus no. 11

Turun dari bus, kita berjalan menuju restoran halal yang dicari dari mbah gugel. Setelah berjalan lumayan jauh dan akhirnya ketemu restorannya, ternyata sedang tutup karena lagi libur. Sedih banget deh rasanya, udah cape jalan jauh pas lagi lapar eh tempat makannya tutup. Kami pun berbalik arah mencari tempat makan lainnya.

Restoran halalnya ada di atas ini, cuma lupa nama restorannya apa ya

Waktu menunjukkan hampir pukul 3 sore, dan sebenarnya gw udah ada janji lagi nih jam 4 di KBRI (daerah Yeouido) untuk mengantarkan titipan dari ortu untuk temannya di sana. Karena takut menghabiskan banyak waktu dengan mencari tempat makan, akhirnya gw pamit duluan dan kembali naik bus no. 11 ke daerah Gwanghamun Square. Untuk ke KBRI di daerah Yeouido dari area Gyeongbokgung cukup naik bus sekali saja, bus no 162. Tapi mencari haltenya lumayan juga harus jalan lagi.

Gwanghamun Square, identik dengan patung Admiral Yi Sunsin dan King Sejong
Patung King Sejong dengan latar belakang gunung Bugaksan

Sambil mencari 7-11 terdekat, gw tetap menyemangati diri untuk berjalan kaki lagi menuju halte. Dari Gwanghamun Square menelusuri jalan Jongno. Ternyata jalan di daerah ini seperti memasuki kawasan SCBD, banyak gedung-gedung tinggi yang menjulang dan banyak karyawan yang berlalu-lalang. Kalau udah nemu 7-11, mata langsung berbinar, pasalnya dari pagi belum makan, perut tuh udah menciut banget hehe. Beli lah makanan favorit, kecil tapi bikin kenyang, kimbab 7-11 dan susu pisang.

Setelah berjalan 10 menit, halte bus sudah terlihat. Bus kemudian datang dan gw pun naik sengaja duduk paling belakang biar bisa sambil makan. Untung busnya sepi jadi bisa sambil makan kimbab yang tadi dibeli. Perjalanan menuju daerah Yeouido sekitar 20 menit, sambil menikmati perjalanan gw melewati Namdaemun Market dan toko-toko kamera yang 2 hari lalu gw lewati dengan berjalan. Oh ternyata lewat sini! Seneng banget gw tuh kalo naik bus, bisa liat rute-rute perjalanan lebih jelas, jadi serasa gw udah paham daerah yang dilalui oleh bus.

Yeouido Area

Menyebrangi sungai Hangang

Kalau udah menyebrangi sungai Hangang berarti sudah mau memasuki daerah Yeouido nih. Patokannya juga ada 63 building yang sudah kelihatan dari jauh. Kata temen gw yang udah pernah ke Korsel, direkomendasikan naik sepeda di area 63 Building, sambil piknik dipinggir sungai. Wah ini gw emang direncanain sih di itinerary gw, harus ke Hangang biar bisa ngerasain ABG di Seoul tuh nongkrongnya gimana sih.

63 Building yang menjulang tinggi

Sesampainya di halte dekat KBRI yaitu duh lupa ya tiba-tiba nama tempatnya, gw turun dan mulai mengamati sekeliling area. Hawanya dari pusat kota turis ke tempat ini udah beda. Di sini gw merasa kaya kawasan apartemen yang ada di drama korea, mulai terasa aslinya warga Seoul tinggal tuh seperti apa.

KBRI Seoul
Marketing orang Korea menjual makanan di depan KBRI. Bisa ae bulu kemoceng 😀

Niat untuk bersepeda di pinggir sungai Hangang raib karena singkat cerita gw terlalu lama nongkrong di KBRI sampai jam 18.30 malam. Ternyata teman ortu gw ini niatnya mau ngajakin makan malam bersama keluarga besarnya, dan menunggu untuk semuanya berkumpul karena masih terjebak macet dari pusat kota. Ihiy macet juga loh pemirsah kaya di Jakarta kalau jam pulang kantor/sekolah. Tapi yaa menunggu dengan sabar itu emang membuahkan hasil. Gw bersyukur banget udah ditraktir makan sama om dan tante yang berbaik hati ini, karena di sinilah gw akhirnya bisa makan daging barbekyu khas Korea yang notabene termasuk makanan muahal bagi solo travelers seperti gw ini.

Alhamdullilah bisa makan daging korea hihihi

Setelah kenyang makan daging, tak lupa untuk berterima kasih, gw pun pamit untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Waktu sudah jam 20.30, sudah tidak sempat sepertinya jalan ke daerah Hangang (ini sih kode harus balik lagi ke Korea tahun depan), jadi gw berpaling kembali ke daerah Honggik Unversity dengan naik Subway di Yeouido Station, transit di Dangsan Station dan turun di Honggik University Station.

Suasana di daerah Hongdae

Menghabiskan malam terakhir di Seoul dengan berjalan di keramaian kawasan Hongdae dan menikmati penampilan street art-nya para anak gaul Seoul. Ada yang ngamen dengan bernyanyi, menari, melawak. Tapi ada juga yang menarik perhatian gw, sempat juga tuh gw melihat sekelompok orang saling adu mulut sambil ada polisi juga. Rasanya pengen ikut nyimak gitu (jiwa netizen kepo keluar) tapi pada ngomong pake bahasa Korea ya susah juga yaa buat mengertinya.

Ada restoran halal juga nih di daerah Hongdae bagi kalian yang ingin mencoba daging korea bakar

Baik! Malam ini ditutup dengan berburu jastip terakhir untuk teman-teman di Jakarta, kembali ke hostel hampir tengah malam langsung membereskan koper karena besoknya gw harus berangkat jam 6 pagi menuju bandara Incheon. Perjalanan gw ke Seoul ini benar-benar berkesan, walaupun singkat sekali tapi jadi bikin gw bertekad untuk balik lagi kesini dan menelusuri tempat-tempat yang belum gw kunjungi.

Saatnya pulang

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kalian yang akan berwisata ke Seoul. Kalau kalian kepo habis berapa sih perjalana ke Korea Selatan bisa baca di sini atau pengen tau itinerary ke Seoul bisa dibaca di sini. Bagi kalian yang sudah ke Seoul boleh donk berbagi di kolom komentar pengalaman menarik apa saja yang terjadi ketika kalian pergi ke Korea Selatan?

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *