India

Rajasthan Trip – Day 2

Namaste!

Setelah drama perjalanan menuju India, gw mau melanjutkan lagi cerita perjalanan kami ke kota pertama, Jaisalmer. Kalau kalian mau mengingat kembali perjalanan hari pertama menuju kota Jaisalmer, bisa klik di sini.

Welcome to Jaisalmer!

Taukah kalian bahwa negara bagian Rajasthan berada di wilayah gurun pasir terbesar di India yang bernama Thar Desert? Kota Jaisalmer berada di paling barat negara bagian Rajasthan yang bertetanggan dengan negara Pakistan dan berdiri ditengah-tengah Thar Desert. Sering dijuluki “The Golden City” karena bangunan di kota ini terbuat dari sandstone berwarna kuning. Kota ini punya benteng pertahanan yang bernama Jaisalmer Fort, dimana sampai saat ini masih menjadi tempat tinggal warga, dibangun hostel untuk para turis, kuil-kuil, dan toko oleh-oleh.

Oh ya untuk suhu pada bulan Januari di India itu sedang musim dingin, sekitar 7-11 derajat Celsius. Jadi suhu rendah sangat disukai masyarakat India pada umumnya. Bisa dibayangkan kalau musim panas, suhu bisa mencapai 40-50 derajat Celsius, apalagi kalau di gurun ya kaan.. kebayang donk panasnya bakal seperti apa.

Nah, sesampainya kami di kota Jaisalmer, mobil sewaan langsung menurunkan kami di Jaisalmer Hostel Crowd. Bertemu dengan resepsionis hostel keturunan Jerman yang ramah, kami pun memulai check-in. Kami membaca informasi yang tertera di papan tulis, dan hal yang pertama kali dilihat adalah kata “lunch“. Yak, setelah 12 jam perjalanan, perut kosong kami meronta-ronta ingin makan. Kota ini masih asing dan agenda kami mepet sekali, belum bisa eksplor dulu untuk cari makan. Jadi memesan makan siang di hostel adalah pilihan yang terbaik. Makan siang kami berbayar sekitar Rs 120 (Rp 24,000).

Pihak hostel akan menyiapkan makan siang sambil kami dipersilahkan masuk ke kamar masing-masing. Para cowo ditempatkan di kamar campur berisi 4 kasur di lantai 1, dan para cewe pun sama namun beda lantai. Tetapi karena akan datang rombongan keluarga yang meminta kamar bersama dipakai, maka gw dan Dini dipindahkan ke private room di lantai 2. Hehehe gw sama Dini sih terima aja, malah seneng bisa dapat private room dengan tidak menambah biaya yang banyak.

Kami menginap 2 malam di hostel ini, dan total biaya perkamar Rs 850 (Rp 170,000) untuk kamar bersama, dan Rs 1,000 (Rp 200,000) untuk private room. Termasuk murah loh untuk seorang backpacker. Hostelnya nyaman dan serasa seperti di rumah sendiri. Para staf-nya pun baik hati, karena menawarkan peminjaman baju hangat dan syal untuk dipakai sementara, karena mereka tau kami kedinginan heheh.

Menurut mereka, pergantian kamar secara mendadak ini termasuk sebuah ketidaknyamanan. Ternyata selain permintaan maaf, mereka memberikan potongan harga pula untuk paket tur Desert Safari Trip. Yang tadinya seharga Rs 2,100 (Rp 420,000) dipangkas menjadi Rs 1,800 (Rp 360,000). Harga tersebut adalah paket Desert Safari Trip yang sudah termasuk dengan naik unta, makan malam, dan pertunjukan tari tradisional. Wow, baik sekali πŸ˜€

Nah, setelah mandi, kami langsung duduk manis di ruang keluarga lantai 2, menunggu makan siang datang. Setelah 10 menit, datanglah makanan dibawakan pada mangkok stainless steel, berbentuk bubur warna kuning. Disajikan dengan tomat, dan bawang merah, kami pun bingung “ini makanan apaan?”

Ternyata, namanya itu daal. Bukan bubur nasi, tapi kacang kuning berbentuk pipih yang direbus hingga lembut menyerupai bubur. Disuguhkan di meja hanya 2 mangkok sedang, langsung lahap donk ini orang-orang Indonesia makannya. 5 menit langsung ludes, sampe-sampe mba resepsionis yang keturunan Jerman, Anna, bertanya “Want, some more?” “Yes, please!” ujar kami dengan semangat dan tidak tahu malu. Makan gitu aja enak loh, mungkin karena hangat dan gurih jadi makannya aja udah kerasa nikmat, menghilangkan rasa lapar dan kedinginan habis mandi.

Tak terasa sudah pukul 2, kami sudah dijemput untuk berpetualang ke gurun pasir. Diperkenalkanlah kami kepada supir bernama Hari. Mister Hari ini fasih banget bahasa inggrisnya, kami senang banget akhirnya bisa ngobrol sama orang lokal. Ternyata beliau adalah pemandu tur dari New Delhi yang sudah berpengalaman selama 19 tahun. Kesempatan bertanya rekomendasi tempat wisata di kota-kota selanjutnya kami tanyakan ke Mister Hari. Pepatah unik juga kami dapatkan dari Mister Hari, seperti yang satu ini yang gw inget banget:

In India, there are 4 things you need to have when driving a car: good horns, good brakes, good driver, and good luck.

Mister Hari

Buset, pantes aja Pak Supir dari Jaipur nyetirnya horror, ternyata emang mayoritas pengendara di India begitu. Tapi kami percaya sama Mister Hari, walaupun udah ngebut di jalan kecil, dia bisa ngerem pas pada waktunya sebelum ada binatang yang lewat. Walaupun memang cara berkendaranya berisik sih, karena klakson yang sering dibunyikannya.

Khuldara Village

Sebelum ke gurun, kami mampir dulu ke Khuldara Village. Konon kata Mister Hari, desa itu sangat misterius. Diceritakanlah bahwa dulu kala ada pangeran Jaisalmer yang jatuh hati pada seorang gadis di desa Khuldara. Suatu hari beliau ingin menikahinya, namun ditentang oleh orang tua gadis tersebut karena usianya masih 13 tahun. Sepulangnya dari desa tersebut, sang pangeran tidak bisa tidur selama 3 hari dan berkata kepada ajudannya bahwa akan membunuh semua warga desa itu demi bisa memiliki gadisnya. Kabar burung pun tiba ke desa tersebut, dan para warga takut akan dihabiskan nyawanya, maka mereka pergi dari desa itu dalam semalam dan tidak ada yang tahu kemanakah mereka pergi.

Legenda yang diceritakan ternyata beragam, karena tidak ada yang tahu sebenarnya mengapa dan kemana warga desa Khuldara pergi, yang tertinggal hanyalah reruntuhan pemukiman warga desa ini. Untuk masuk ke sini, harga tiketnya Rs 50 (Rp 10,000). Kira-kira seperti ini lah tempatnya:

Kata Mister Hari, kalau ke tempat ini jangan sampai malam-malam. Pas ditanya kenapa, dia cuma bilang “there are ghosts!” Ya elah si bapak ternyata percaya hantu-hantu juga ya. Jadi penasaran ga kalian, hantu di desa Khuldara seperti apa? Hmmmm

Liat anak anjing aja biar ga takut hantu :3

Desert Safari Trip

Sampai deh kami di gurun pasir. Ternyata banyak resort yang tersedia untuk pengunjung. Setibanya di resort, kami dipersilahkan dulu ke kamar mandi, dan disediakan minuman chai sebelum naik unta. Enak loh minum chai hangat pas suhu lagi dingin begini.

Minum chai dulu sebelum naik unta
Hai unta-unta
Itu pemandu unta gw sama Dini

Nah, saatnya naik unta, didampingi dengan para pemandu unta, kami pun mulai berjalan. Rasanya gimana? Kaya naik kuda aja tapi lebih tinggi 😁. Kami dibawa menuju tempat untuk melihat matahari terbenam. Melintasi gurun pasir, pemandu gw dan Dini tiba-tiba berhenti dan berkata kira-kira seperti ini “ayo, foto dulu, sini saya ambilin”.

Eaak boleh juga nih pemandunya bisa foto πŸ‘

Dan ternyata hasilnya mas pemandu kami bagus! Dia masih belia, umurnya 16 tahun, bekerja paruh waktu jadi pemandu unta pada akhir pekan.

Ya kaan bagus skill fotonya
Kalau ini sih difotoin Dini

Setibanya di tempat akhir untuk pertunjukan matahari terbenam, ternyata sore itu mendung, dan tidak terlihat jelas mataharinya. Akhirnya, kami hanya puas-puasin foto berlatar gurun pasir sebelum kembali ke resort.

Selesai dengan perjalanan Desert Safari dengan unta, kami kembali ke resort dan dipersilahkan untuk duduk serta menyaksikan pertunjunkan musik dan tarian khas Rajasthan. Selain kami berempat, ada sekitar 20 pengunjung lainnya yang turut menyaksikan pertunjunkannya. Kami duduk setengah lingkaran mengelilingi api unggun dan di hadapannya ada panggung para pemain musiknya.

Sambil ditawarkan chai dan disuguhkan cemilan berupa kacang dan kerupuk, kami menikmati pertunjukannya.

Setelah 1 jam menonton pertunjukan musik dan tarian, perut mulai keroncongan lagi. Ditambah aroma-aroma masakan di dapur sudah mulai tercium. Kami sempat bertanya ke pelayan “Jam berapa makan malam dimulai?”, hanya dijawab dengan “20 minutes“.

Ternyata 20 menit ga kerasa ketika sang penari mulai berinteraksi dengan para penonton. Kami semua masuk ke area api unggun untuk menari. Bisa dibilang Dini paling bersemangat untuk menari 😁.

Akhirnya, makan malam sudah siap. Sebelum kami mengambil makanan secara prasmanan, disebutkan terlebih dahulu sama pelayannya nama makanannya dan terbuat dari apa. Semua terbuat dari sayuran, tidak ada daging. Sayang sekali kami belum ingat nama makanannya, karena uda laper banget jadi ga akan konsen juga kalau diinget namanya.

Hmmm yummy! Coba tebak bahan-bahannya dari apa aja?

Setelah makan, agenda kami adalah pulang kembali ke hostel. Pada pukul 21.00 sudah selesai acara pertunjukannya, dan Mister Hari kembali menjumpai kami. Sebelum pulang kami ditawarkan sekali lagi untuk minum chai.

Ada kejadian lucu karena pada saat yang bersamaan, Miguel meminta untuk mengisi air putih ke dalam tempat minumnya untuk dibawa pulang. Hampir setengah jam kok tempat minumnya ga balik-balik, ternyata terjadi miskomunikasi.

Pelayannya nangkep kalau yang diminta masukin ke dalam tempat minum adalah chai. Lucunya karena tempat minumnya terbuat dari plastik, seketika dimasukin chai panas langsung meleyot deh hahah. Padahal maksudnya air putih biasa yang dimasukin ke tempat minum tersebut. Sontak semua pada tertawa atas kejadian lucu ini. RIP botol minum Miguel.

Baiklah, saatnya kita balik ke hostel! Namun pengunjung lainnya tidak ikut pulang, melainkan mereka akan menginap di tengah-tengah gurun dengan memasang tenda. Hiih makasih deh, udah dingin trus tidur di tengah gurun yang gelap, mending mencari kehangatan aja saat ini. Lalu berakhirlah perjalanan kami di gurun pasir.

Foto bersama artis kondang πŸ˜‚

Akhirnya kami beristirahat dan siap menghadapi hari esok untuk eksplorasi kota Jaisalmer lebih dalam. Cerita selanjutnya akan diterbit minggu depan, yaa! Sabar menunggu adalah koentji kehidupan.

Selamat beristirahat!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *